Berdasarkan pada data yang dirilis oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, sekitar 95% dari total 4,7 juta pegawai negeri sipil di Indonesia tidak memiliki kompetensi di bidangnya. Artinya ada 2,35 juta PNS yang tak kompeten di bidangnya. Tentu hal ini menyakitkan bagi rakyat. Bagaimana tidak, berarti pajak yang kita bayarkan kepada pemerintah hanya digunakan untuk membayar pegawai dengan output rendah.
Hal ini seperti penyakit kronis yang menggerogoti tubuh manusia, setelah terjadi komplikasi seperti ini barulah Menteri PAN kebakaran jenggot, coba saja kalau sejak kecil dulu tidak dibasmi sehingga kumpulan pegawai yang tidak berkompeten ini bisa dibina atau dibinasakan. Bayangkan saja jika hal ini terjadi di perusahaan swasta, jelas perusahaan itu sudah lama bangkrut.
Menurut Teten Masduki, cara memangkas PNS yaitu dengan memberikan pensiun dini. Rakyat tahu bahwa bukan hanya PNS senior saja yang tidak berkompeten ataupun melakukan korupsi, namun PNS muda juga banyak yang tidak berkompeten bahkan terjerat dalam skandal rekening gendut.
Publik tahu bahwa dalam perekrutan PNS sangat rentan terjadi KKN, belum lagi sistem perekrutan yang hanyak mendasarkan pada latar belakang pendidikan yang pernah ditempuh oleh pelamarnya, apalagi dengan dinamisnya dunia pendidikan saat ini, seseorang bisa memiliki keahlian di bidang lainnya yang tidak ia dapatkan dari bangku kuliah. Kesalahan dalam penempatan, promosi dan rotasi juga tak jarang kita dapati di tubuh PNS yang sebagian besar lebih bermuatan politis daripada orientasi pencapaian tujuan.
Pada dasarnya gaji yang dibayarkan pemerintah kepada PNS berasal dari pajak yang dipungut dari rakyat, oleh karena itu wajar jika rakyat menyatakan tak rela jika uang mereka hanya digunakan untuk membayar gaji PNS berdisiplin buruk, kinerja rendah, yang seolah-olah membiarkan dana pembangunan bocor, mark-up dan korupsi di semua instansi. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca koran, ngobrol ngalor-ngidul, main games di komputer.
Kita butuh banyak pemimpin yang amanah untuk menjalankan negara ini. Mulai dari pemimpin kecil hingga pemimpin besar seperti Kepala Negara.
AntiPNS
Thursday, October 31, 2013
Ternyata 95% PNS Tidak Kompeten Di Bidangnya
Berdasarkan pada data yang dirilis oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, sekitar 95% dari total 4,7 juta pegawai negeri sipil di Indonesia tidak memiliki kompetensi di bidangnya. Artinya ada 2,35 juta PNS yang tak kompeten di bidangnya. Tentu hal ini menyakitkan bagi rakyat. Bagaimana tidak, berarti pajak yang kita bayarkan kepada pemerintah hanya digunakan untuk membayar pegawai dengan output rendah.
Hal ini seperti penyakit kronis yang menggerogoti tubuh manusia, setelah terjadi komplikasi seperti ini barulah Menteri PAN kebakaran jenggot, coba saja kalau sejak kecil dulu tidak dibasmi sehingga kumpulan pegawai yang tidak berkompeten ini bisa dibina atau dibinasakan. Bayangkan saja jika hal ini terjadi di perusahaan swasta, jelas perusahaan itu sudah lama bangkrut.
Menurut Teten Masduki, cara memangkas PNS yaitu dengan memberikan pensiun dini. Rakyat tahu bahwa bukan hanya PNS senior saja yang tidak berkompeten ataupun melakukan korupsi, namun PNS muda juga banyak yang tidak berkompeten bahkan terjerat dalam skandal rekening gendut.
Publik tahu bahwa dalam perekrutan PNS sangat rentan terjadi KKN, belum lagi sistem perekrutan yang hanyak mendasarkan pada latar belakang pendidikan yang pernah ditempuh oleh pelamarnya, apalagi dengan dinamisnya dunia pendidikan saat ini, seseorang bisa memiliki keahlian di bidang lainnya yang tidak ia dapatkan dari bangku kuliah. Kesalahan dalam penempatan, promosi dan rotasi juga tak jarang kita dapati di tubuh PNS yang sebagian besar lebih bermuatan politis daripada orientasi pencapaian tujuan.
Pada dasarnya gaji yang dibayarkan pemerintah kepada PNS berasal dari pajak yang dipungut dari rakyat, oleh karena itu wajar jika rakyat menyatakan tak rela jika uang mereka hanya digunakan untuk membayar gaji PNS berdisiplin buruk, kinerja rendah, yang seolah-olah membiarkan dana pembangunan bocor, mark-up dan korupsi di semua instansi. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca koran, ngobrol ngalor-ngidul, main games di komputer.
Kita butuh banyak pemimpin yang amanah untuk menjalankan negara ini. Mulai dari pemimpin kecil hingga pemimpin besar seperti Kepala Negara.
Thursday, January 31, 2013
Monday, February 8, 2010
Alasan 70% pegawai negeri sipil melakukan Korupsi
Fakta tersebut diungkapkan Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abdullah Hehamahua dalam workshop ”Strategi Penanganan Konflik Kepentingan di Indonesia” di Hotel Horison Bandung, kemarin. Menurut Abdullah, gaji PNS di Indonesia yang hanya cukup untuk 10 - 20 hari menciptakan potensi melakukan korupsi. ”Sebanyak 10% lagi disebabkan keserakahan karena tidak ada sistem yang mengawal atau mengontrol mereka. Kemudian korupsi karena peluang, ini biasanya diciptakan karena adanya konflik kepentingan.
Sunday, March 15, 2009
Met Bobo Yach...

Inilah potret salah satu pegawai negri kita yang sedang bobo pada saat jam kerja.
Awal cerita, saya terkena musibah, yaitu hilangnya dompet saya, hiks sedih, tapi apa mau dikata, tegoran buat saya yang memang suka ceroboh. Akhirnya setelah memblokir semua kartu ATM dan kartu kredit esok harinya saya segera mengurus administrasi dari bank-bank dan mendapatkan kartu pengganti. Tinggal satu masalah, yaitu membuat KTP.
Kalau kawan-kawan baca postingan saya yang lalu membuat paspor, pasti pada tau saya memang orang yang paling malas berurusan dengan birokrasi. Tetapi, mau tidak mau, saat membuat KTP ini, saya harus turun tangan sendiri karena sebelumnya diurus oleh papa saya.
Singkat kata, saya pergi ke kantor Lurah dengan membawa kelengkapan surat seperti surat lapor kehilangan dari kantor polisi, fotokopi KTP lama, fotokopi akte kelahiran, pas foto 2x3, dll. Setelah menjelaskan kepada pegawai tersebut masalah saya, pegawai tersebut mengatakan bahwa proses saya sangat sulit yeah rite!!! Tanpa basa basi saya merelakan 30rb rupiah untuk diberikan kepada pegawai teladan tersebut. "Kurang niey, 10rb lagi" dengan tidak malu memalak saya seperti itu *kucing!!!!*. Karena mau tau beres, saya relakan kembali 10rb melayang (padahal mau bilang tuh ditempelan dinding ada tulisan biaya memperpanjang KTP = gratis).
Tiga hari kemudian saya datang lagi sesuai dengan yang dia janjikan, tapi apa mau dikata, hari Jumat, setelah makan siang sampai jam pulang kerja si pegawai tersebut tidak kembali ke kantor. Setelah memaksa asistennya, saya diberikan KTP yang belum di tanda tangan Pak Lurah lelet banget. Lalu saya melihat kalau ada kesalahan dari pengetikan tanggal lahir saya. Saya komplen dan minta untuk diganti dan disambut dengan kata iya iya iya...
Senin, Selasa, Rabu akhirnya saya memutuskan untuk datang kembali, sudah satu minggu harusnya sudah dikoreksi kembali dan ditanda tangan. Tapi apa yang saya dapatkan, KTP saya belum dikoreksi sama sekali. Merasa kesal, akhirnya saya marah-marah. Dengan sejuta dalih pegawai teladan mencari alasan, akhirnya saya tetap memaksa kalau saya mau menerima KTP saya hari itu juga dan saya tunggu hari itu juga. Emangnya pergi ke kantor lurah ga pake ongkos??? Setelah menunggu dari jam 10 pagi hingga jam 3 sore plus bengong-bengong ria di kantor lurah ampe digoda-godain. Akhirnya KTP saya kelar juga.
Saat saya menunggu seharian di kantor Lurah, saya melihat banyak pegawai yang santai-santai bahkan ada yang tidur. Astaga enak sekali mereka, pantes aja kerjaan ga kelar-kelar. Apa mereka benar-benar tidak ada kerjaan? Kalau tidak ada kenapa banyak pegawai direkrut? Ada yang pernah menulis kalo 1 pegawai swasta = 3 pegawai negri yah mungkin itu bener kali. Terus terang saya merasa gondok dan rugi membayar pajak untuk menggaji orang-orang seperti ini. Beginikah mental pegawai negri kita, kalau kayak gini kapan Indonesia bisa maju? Benar-benar tidak ada disiplin, ngetik aja ngga becus, kalo duit aja mata ijo. Cape deh...

